Pengelolaan Laboratarium secara Tradisional

Pagi ini seorang teman saya bernasib sama dengan saya, yaitu dalam waktu dekat akan di tambahi tanggung jawab.

 

Kalau saya di bidang Data dan Informasi sedang teman saya disamping mengajar juga mengelola fasilitas laboratorium Jurusan Keperawatan. Tergambar dalam pikiran saya betapa rumit mengelola laboratorium karena sistem yang ada adalah menggunakan metode konvensional alias pakai inventaris menggunakan catatan buku, lembaran dan menghitung stok secara langsung.

 

Saya yakin seyakin-yakinnya  barang  yang ada tidak sama dengan jumlah sebagaimana mestinya alias tidak terdeteksi

 

Laboratorium keperawatan berisi ratusan barang peraga anatomi tubuh manusia, peralatan paramedis dan medis, gambar, ruangan tiruan ruangan-ruangan dan bangsal rumah sakit, peralatan bedah minor, barang habis pakai (contoh obat-obatan, infus set, jarum suntik, gloves, dll) dan tidak habis pakai .

 

Tugas pengelola bukan hanya menyimpan tapi juga mengeluarkan bila diperlukan untuk beberapa keperluan:

-         dosen meminjam untuk peraga mengajar

-         mahasiswa meminjam untuk redemonstrasi dan keperluan lain

-         pemgembalian

-         stok barang tersedia

-         dan jumlah stok barang yang perlu segera di sediakan

-         pengingat waktu kapan kembali

-         perhitungan-perhitungan lain.

 

Laboratorium Keperawatan Malang akan melayani ratusan dosen dan mahasiswa keperawatan, saya kira  perlu segera pengelolaan secara efisien di lakukan dengan optimalisasi teknologi yang ada.

 

Sistem Informasi Manajemen Laboratorium Keperawatan.

Dengan memanfaatkan SIM laboratorium keperawatan berbasis komputer  pengelolaan laboratorium akan lebih efektif dan efesien (Ind. mangkus dan sangkil). Hal ini dapat terlihat dari beberapa aspek:

-         Identifikasi seketika semua jenis dan jumlah item-item yang dimiliki laboratorium

-         Identifikasi dengan seketika status dari item-item laboratorium (rusak, terpinjam oleh siapa,  kapan harus kembali, atau kapan kembali, jumlah denda, hilang, dll)

-         Posisi, peletakan pada tempat penyimpanan.

-         Pengenalan item cukup dengan perangkat OCR terhadap item yang dilengkapi Bar Code.

-         Pengelolaan jadwal pemakaian peralatan (dan ruangan).

 

 

Langkah-langkah Implementasi:

 

Langkah pertama dan utama untuk implementasi sistem adalah aspek political will,  aspek ini mencakup dukungan dan fasilitasi oleh jajaran manajemen (manajemen poltekkes dan jurusan),  pihak manajemen akan mempertimbangkan man, money, dan other resources. Mungkin saja akan dilakukan studi kelayakan project, analisis dampak terhadap budaya organisasi, aspek biaya pemeliharaan untuk keberlanjutan.

 

Penerapan sistem informasi dipengaruhi dan mempengaruhi budaya institusi, membutuhkan maintenance paling tidak bisa kita bayangkan yang kasat mata, institusi akan membutuhkan administrator jaringan, operator komputer, konsultan dan teknisi komputer dan jaringan (termasuk programmer). Ini menyangkut pekerjaan mereka, menyangkut menggaji, dan implikasinya adalah anggaran lembaga. Sanggup apa tidak?

 

Pelaksanaan Project

 

Selanjutnya pelaksanaan project diawali dengan mengalisis sistem, meliputi menganalisis alur informasi pengelolaan laboratorium kemudian membuat desain sistem informasi, prototyping, dan uji coba.

 

Tantangan

 

Tantangan pertama adalah hambatan dari ‘manusia’ lain. Setiap gagasan positif akan di tangkap orang lain yang ber-mindset positif sebagai gagasan positif; dan begitu juga sebaliknya.

 

Tantangan lain adalah kultur. Seorang teman saya yang menyusun tesis berkaitan dengan LAN dan bagian dari penyusunan tesis tersebut di lakukan di suatu tempat di Aceh. LAN terpasang dengan sempurna termasuk perangkat komputer dan penunjangnya. Juga pelatihan operasionalisasi jaringan dan komputer, serta pendampingan beberapa saat setelah pelatihan. Begitu di evaluasi  beberapa  minggu kemudian diketahui komputer lengkap dengan jaringannya tidak terpakai. Penyebabnya yang menyangkut budaya orang per orang, kultur organisasi atau kultur masyarakatnya terhadap sesuatu yang baru atau terhadap teknologi atau terhadap apa yang dipandang baik dan apa yang di anggap positif.

 

Saya sekiankan dulu, dengan membaca tulisan saya di atas anda akan semakin tahu bahwa saya tidak banyak tahu tentang tahapan implementasi sistem, maklum.

 

 

 

 

 

Setelah hampir setahun lamanya (maklum saya tinggal di suatu tempat yang untuk ke warnet harus menempuh itungan jam) saya tidak mengamati perkembangan blogs perawat kira-kira sebulan yang lalu saya mulai surfing.

 

Saya menjumpai blog-blog perawat yang menunjukkan geliat ke arah kristalisasi pemikiran dan motivasi yang menggembirakan. Beberapa blog dilandasi oleh semangat kolektivitas dengan memberi nama non personal dan mengundang pengunjung untuk berpartisipasi dalam ‘membesarkan blog. Termasuk kelompok ini adalah Blog Perawat Manajer Indonesia yang inisiasi dan motori oleh Mas Wastu, kebetulan kakak tingkat waktu di Malang. Ada Komite Keperawatan RSU Banyumas, dengan sub headingnya “komunitasnya perawat pembelajar’.

 

Berikutnya adalah blog personal perawat dengan fokus substansinya dunia akademik keperawatan, keilmuan lengkap dengan fitur-fitur yang menunjang. Termasuk dalam kelompok ini adalah blognya Mas Bondan Palestin dan Mas Heru Subekti.

Tentu saja lebih banyak lagi yang lainnya antara lain blog Siswanto (kuwait).

Saya merasa salut dan angkat jempol untuk semua perawat-perawat blogger yang meramaikan  cyber. Untuk yang akan datang semoga ini akan menjadi pemantik kemajuan dan eksistensi peradaban keperawatan dan kesehatan Indonesia dan di Indonesia.

salam./

Hari Rabu 11 Juni kemarin saya kebagian jadwal menjadi ‘narasumber’ mahasiswa semester 2 mempresentasikan proposal penelitian yang mereka buat sebagai tugas mata ajar riset keperawatan dimana saya adalah salah satu pengajarnya.

Sebutan ‘narasumber’ sebenarnya tidak pas untuk saya, karena saya yang di anggap sebagai ‘nara sumber’ oleh moderator, sebenarnya saya merasa masih merasa sedang belajar terus dalam lapangan riset.

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Ika Noviana yang empunya proposal berjudul kalau tidak salah adalah Gambaran Kondisi Afek Emosi Lansia yang Bekerja di Wilayah Pakisaji Kabupaten Malang.

Beberapa catatan kesimpulan yang berhasil saya ingat atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah sebagai berikut:

  1. Suatu penelitian dapat dibuat hipotesis penelitian minimal terdiri dari 2 variabel dan 2 variabel tersebut terdapat keterkaitan.
  2. Judul setiap saat dapat berubah dan disempurnakan seiring berjalannya waktu pelaksanaan di lapangan dan baru pasti setelah final dihasilkannnya hasil dan pembahasan penelitian.
  3. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus yang ada pada beberapa buku teks
  4. Besar sampel dan jumlah sampel berbeda, walaupun umumnya buku-buku sumber menyamakannya (Jumlah sampel berarti jumlah responden; Besar sampel berarti jumlah kelompok responden)
  5. Keterbatasan penelitian merupakan keterbatasan penelitian yang disebabkan oleh desain penelitiannya sehingga bisa diketahui selama penyusunan rancangan / proposal penelitian dan dapat di tulis atau di sebutkan sebelum pelaksanaan untuk membentuk frame pembaca akan hasil penelitian dan sebarapa jauh keterbatasan-keterbatasan yang akan muncul
  6. Kelemahan penelitian merupakan kelemahan penelitian yang disebabkan oleh karena hambatan-hambatan yang ditemukan di lapangan saat pelaksanaan dan bukan karena rancangan penelitiannya.

Catatan singkat ini semoga bermanfaat , dan koreksi anda pasti akan saya terima dengan lapang dada.

 

 

dari pengamatanku, tidak ada institusi politeknik kesehatan yang menerapkan sistem informasi manajemen pendidikan secara integratif. mungkin karena mahal (SD material), dan sangat mungkin karena SD Manusia-nya. Padahal sudah ada sistem informasi manajemen sekolah dari indosat yang di desain untuk manajemen pendidikan menengah dan sistem informasi kampus untuk pendidikan tinggi.

Adanya SISFO kampusnya pak Dewo yang kalo gak salah ‘gratis’ (salah??)membuat alasan kurangnya anggaran untuk sistem informasi tidak boleh dipakai.

Wahai poltekkes seluruh indonesia (lebih beruntung dibawah diknas), siapa di antara antara anda yang sudah menerapkannya ?