Pada penelitian kuantitatif langkah-langkahnya bersifat lurus, linear. Peneliti telah menentukan berbagai macam langkah-langkah yang telah direncanakan dengan matang menyangkut metodologi penelitian dan sejauh mungkin peneliti kemudian melaksanakan keseluruhan perencanaan .

 

Pada penelitian kualitatif setiap saat peneliti menemukan data kemudian ditafsirkan dan kemudian menentukan keputusan proses selanjutnya berdasarkan apa yang sudah di temukan.

 

Jadi pada penelitian kuantitatif pelaksanaan penelitian dilakukan setelah rancangan penelitiannya selesai dan matang, sedang pada penelitian kualitatif sebaliknya rancangan penelitian dimunculkan selama pelaksanaan pengumpulan data di lapangan karena itulah rancangan penelitian kualitatif disebut sebagai emergent design

 

Dengan kata lain peneliti mempunyai keluwesan pendekatan pengumpulan data dan analisis data, sehingga mustahil menentukan alur kegiatan secara tepat persis.

 

Langkah konseptual dan perencanaan Penelitian Kualitatif

Konseptualisasi:

Mulai dengan topik yang relatif luas, dan kemudian penelitian kualitatif biasanya menyorot kepada elemen-elemen yang masih sedikit atau jarang diketahui, karena itu belum mengembangkan suatu hipotesis.

 

Pada awalnya peneliti kualitatif tidak banyak membuat pembatasan terhadap pertanyaan penelitian, wilayah topik yang umum kemudian dipersempit.

 

Berkaitan dengan tinjauan pustaka, ada perbedaan pendapat antar peneliti-peneliti kualitatif sendiri.

 

Pada satu pihak ada yang berpendapat bahwa peneliti tidak perlu melakukan penelusuran penelitian sebelumnya sama sekali sebelum pengumpulan data. Alasannya dikuatirkan hal ini akan mempengaruhi bentuk konseptualisasi peneliti tentang topik yang ditelitinya. Karena pandangan ini berpendapat bahwa fenomena harus diuraikan berdasarkan sudut pandang partisipan, tidak boleh ter- ’kontaminasi’ informasi-informasi sebelumnya yang diperoleh peneliti sebelum penelitian yang mungkin saja tercampur aduk dalam ingatan peneliti.

 

Pihak lain menyatakan perlu melakukan penelusuran studi sebelumnya untuk menemukan macam-macam bias yang bisa muncul pada topik yang sama.

 

Perencanaan:

Pada fase perencanaan ini peneliti mencermati topik yang diteliti dan menemukan wilayah atau lokasi-lokasi yang konsisten dengan topik yang akan diteliti.

 

Misalnya topik penelitian adalah nilai-nilai kesehatan yang dipercaya para ibu-ibu hamil miskin yang diperkotaan, maka lokasi yang dipilih adalah wilayah kumuh perkotaan.

 

Kemudian peneliti mengidentifikasi lebih jauh setting lokasi dimana data akan dikumpulkan – misalnya di rumah-rumah, klinik, atau tempat kerja dsb.??

 

Sering kali peneliti harus menghubungi ’key actors’ dari lokasi yang dipilih untuk menjamin kelancaran dan memastikan kerjasama yang baik dan akses kepada informant

 

Seperti di jelaskan di atas, peneliti kuantitatif tidak akan memulai pengumpulan data sebelum rancangan penelitian selesai, sangat kontras dengan penelitian kualitatif, rancangannya sering disebut emergent design /rancangan emerjen-artinya rancangan yang muncul selama  pelaksanaan pengumpulan data.

 

Walaupun demikian sebelum ke lapangan peneliti harus memperkirakan berapa lama waktu   yang dibutuhkan dan  harus mempersiapkan peralatan yang mungkin dibutuhkan misalnya tape recorder untuk wawancara dengan informant.

 

Pelaksanaan      

Dimulai dengan mengamatai atau berbicara dengan beberapa orang yang paling menguasai dengan fenomena yang diteliti, dimana struktur diskusi dan observasi cukup longgar, yang memungkinkan pikiran-pikiran, perasaan-nilai-keyakinan, dan perilaku dengan ’jujur’ ternyatakan.

 

Analisis dan  penafsiran dilakukan terus-menerus bersamaan dengan menentukan siapa orang berikutnya yang diwawancarai dan pertanyaan-pertanyaan apa selanjutnya yang sampaikan dan pengamatan terhadap apa yang akan dilakukan.

 

Proses analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan (clustering) secara bersama-sama jenis informasi naratif yang berkaitan ke dalam suatu skema yang bertalian secara nalar/logis (koheren).

 

Begitu analisis dan penafsiran berlangsung, peneliti mulai mengidentifikasi tema dan kategori, yang digunakan untuk membangun  suatu teori yang deskriptif dari fenomena.

 

Begitu teori mengembang peneliti mencari partisipant yang dapat mengkonfirmasi dan memperkaya pemahaman teoritis  dan partisipan yang potensial menentang dan mengarah kepada pengembangan teori lebih lanjut.

 

Umunya wawancara dan pencarian data berhenti jika telah terjadi saturasi data, terjadi jika tema dan kategori terulang terus dan tidak ada diperoleh informasi baru lagi.

 

Keterpercayaan data diperoleh dari lapangan, yaitu dengan cara mengkonfirmasi yang mencerminkan pengalaman dan sudut pandang para partisipan, dan bukan pada persepsi peneliti.

 

Kegiatan untuk konfirmasi ini antara lain dengan  kembali ke partisipan dan berbagai penafsiran pendahuluan dengan mereka sehingga mereka dapat mengevaluasi  apakah analisis tematik peneliti konsisten dengan pengalaman mereka.

 

 

Diseminasi

Bentuk laporan biasanya kaya dengan kutipan-kutipan kata per kata untuk memperkuat ilustrasi penafsiran peneliti dan perumusan teoritis.

 

Hasil penelitian kualitatif biasanya digunakan sebagai dasar perumusan hipotesis yang digunakan  pada penelitian kuantitati, juga pengembangan instrumen pengkajian untuk penelitian maupun untuk kepentingan klinis.

 

Tak kalah penting hasil penelitian kualitatif membentuk persepsi bidan dan perawat terhadap masalah atau situasi dan dapat mengkonseptualisasikan  solusi yang potensial.

 Bilamana topik penelitian yang dilakukan masih belum banyak sumber dan literatur maka penelitian kualitatif lebih bermanfaat dari pada kuantitatif. 

Sebelum membicarakan penelitian kualitatif, baiklah kita bahas dulu langkah-langkah penelitian kuantitatif.

Penelitian (bukan proposal penelitian)  selalu diawali dengan pertanyaan penelitian, dan diakhiri dengan jawaban yang merupakan hasil penelitian.

Tahapan-tahapan penelitian kuantitatif:

Tahap 1: Tahap Konseptual (Merumuskan dan membatasi masalah, meninjau kepustakaan yang relevan, mendefinisikan kerangka teoritis, merumuskan hipotesis).

Tahap ini termasuk merenungkan, berpikir,  membaca, membuat konsep, revisi konsep, teoritisasi,  bertukar pendapat, konsul dengan pembimbing, dan penelusuran pustaka.

 Tahap 2: Fase Perancangan dan Perencanaan (memilih rancangan penelitian, mengidentifikasi populasi yang diteliti, mengkhususkan metode untuk mengukur variabel penelitian, merancang rencana sampling, mengakhiri dan meninjau rencana penelitian, melaksanakan pilot penelitian dan membuat revisi).

Peneliti menentukan metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Tahap 3: Fase Empirik (pengumpulan data, penyiapan data untuk analisis) 

Tahap 4: Fase Analitik (analisis data, penafsiran hasil)

Tahap 5: Fase Diseminasi

Pada fase dilakukan penyebaran penemuan ini hasil penelitian dikirimkan kepada  jurnal-jurnal penelitian yang relevan dengan topik. Baik lokal maupun   luar negeri. Di samping jurnal peneliti juga mengusahakan untuk pemuatan di majalah-majalah, jurnal on-line, dan mengadakan seminar-seminar yang dihadiri perwakilan-perwakilan lembaga pendidikan dan ilmiah serga lembaga pemerintah terkait serta LSM.

Pada tataran mahasiswa yang melakukan penelitian untuk tugas akhir fase diseminasi sudah dilakukan dengan presentasi hasil karya tulis ilmiah / skripsi di depan dewan penguji dan dihadapan audiens yang diundang untuk mengikuti jalannya sidang dan terlibat dalam saran-saran dan pertanyaan kritis kepada peserta sidang. Walaupun begitu diseminasi sesungguhnya adalah apabila proses sidang dan persetujuan diselesaiakan.

Pada fase diseminasi dilakukan juga proses penggunaan temuan yang dilakukan oleh peneliti sendiri atau pihak lain yang mencoba memanfaatkan setelah mengetahui dari proses diseminasi.

 

Main Source:

Polit; D.F.  & Hungler; B.P. (1999). Nursing Research.Principles and  Methods. 6th ed. Lippincott.   NY-Baltimore-Philadelphia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian (study) kasus adalah investigasi yang mendalam terhadap suatu fenomena  tunggal atau serangkaian kecil fenomena tunggal. Bisa berupa satu orang, sekelompok orang, bisa juga sebuah keluarga, sekelompok keluarga, atau lembaga.

 

Yang perlu ditekankan dalam suatu penelitian kasus (case study)  adalah ”kasus” itu sendiri, penelitian dipusatkan pada dinamika mengapa seseorang (bila penelitian dilakukan pada ‘orang”) berpikir, berperilaku atau mempunyai kecenderungan  pola perilaku tertentu, dan bukan difokuskan pada keadaan (state) –nya, tindakan, atau pikiran-pikirannya.

 

Dari konsep tersebut implikasi pada pelaksanaannya data yang digali bukan hanya terbatas  pada kondisi/keadaannya sekarang tetapi juga faktor-faktor lingkungan, hal-hal yang dialami, pengalaman, dan situasi-situasi yang mungkin, kemungkinan besar, dan pasti ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti. Karena itu data-data pada penelitian kasus (case study) sering bersifat kualitas, dan jarang bersifat kuantitatif.

 

Case study kadang-kadang bermanfaat untuk menjelajahi fenomena yang jarang ditemukan atau belum banyak diteliti. Dari hasil penelitian ini lebih lanjut dapat menghasilakn hipotesis-hipotesis yang memerlukan pengujian pada penelitian lanjutan.

 

Dikenalnya secara luas penyakit AIDS / HIV di awali sebuah penelitian yang bersifat studi kasus yang kemudian dari hasil penelitian kasus tersebut perhatian dunia ilmu pengetahuan berawal.

 

Kelemahan dari studi kasus yang sering dimunculkan adalah  data yang cenderung superfisial, dan kelemahan paling pasti adalah ketidak-sanggupan generalisasi.

 

Pada setiap kelemahan, terletak kekuatan. Demikian juga pada case study.

 

Kekuatan case study (CS) adalah kedalamannya saat terbatasnya jumlah orang, lembaga atau kelompok yang sedang diteliti.

 

Kelebihan lain CS memperbesar kesempatan peneliti untuk mempunyai pengetahuan yang dalam tentang kondisi, pikiran, perasaan, tindakan, sekarang atau masa lalu, lingkungan seseorang, lembaga atau sekelompok orang.

 

Sebagian besar studi kasus  merupakan penelitian non eksperimental, di dalamnya peneliti menggali informasi deskriptif dan bisa menelitia hubungan antar variabel-variabel yang bermacam-macam atau kecenderungan.

 

Beberapa CS dilakukan dengan memberikan perlakuan pada tataran individu, yang kadan-kadang jenis penelitian ini disebut percobaan subyek-tunggal (single-subject experiments); dimana paling tepat digunakan rancangan (design) serial waktu (time series design).

 

 

 


*) Tulisan dari beberapa buku dan sumber off-line.  

 

 

Untuk mencari BERBAGAI LOWONGAN pekerjaan silahkan klik di sini

Khusus LOWONGAN PERAWAT silahkan KLIK DISINI

Istilah-istilah dalam penelitian keperawatan perlu dikuasai sehingga didapat pengertian-pengertian yang lebih kompleks di dalamnya istilah tersebut.

 

Berikut ini merupakan istilah –istilah dasar penelitian keperawatan sebagai review, semoga ada gunanya untuk anda.

 

ORANG-ORANG DALAM PENELITIAN:

 

Peneliti, Subyek, informan dan responden.

Di dalam penelitian  yang melibatkan orang terdapat 2 pihak, yaitu manusia yang melakukan penelitian (disebut peneliti atau investigator) dan orang yang memberikan informasi.

 

Pemberi informasi pada penelitian kuantitatif disebut subyek  atau peserta penelitian,  sedang responden digunakan untuk menyebut subyek yang memberikan informasi kepada peneliti dengan memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti, misalnya menggunakan kuesioner.

 

Istilah ‘subyek’ pada penelitian kuantitatif mengandung makna seseorang bersifat pasif.

 

Sedangkan pada penelitian kualitatif  seseorang yang terlibat pada penelitian bersifat lebih aktif karenanya disebut informan.

 

Jika penelitian dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu tim, maka orang penting yang mengarahkan penelitian disebut peneliti utama atau project director atau principal investigator.

 

 

Proses-proses dalam penelitian keperawatan:

 

Konseptualisasi adalah proses pengembangan dan men-saripati-kan gagasan abstrak, gagasan tidak konkret ke dalam unsur-unsur yang manifest dalam bentuk perilaku dan ciri-ciri.

 

Contoh: sakit adalah gagasan abstrak, sehat adalah gagasan abstrak. Sakit adalah konsep,sehat adalah konsep.

 

Proses konseptualisasi gagasan abstrak tersebut menghasilkan definisi sakit, ciri-ciri sakit, dan seterusnya.

 

 

UNSUR-UNSUR DALAM PENELITIAN :

 

Peneliti penelitian kualitatif sering menyebut konsep sebagai fenomena atau topik.

 

Konstruk adalah suatu abstraksi atau representasi yang disimpulkan dari situasi, kejadian, atau perilaku. Konstruk dan konsep sering disamakan tetapi kebanyakan konstruk menunjuk kepada suatu abstraksi yang sedikit lebih rumit daripada konsep.

 

Teori digunakan bermacam-macam. Dikelas istilah teori digunakan untuk menunjuk pada isi ajaran dikelas, lawan dari praktek yang merupakan isi ajaran secara praktek yang merupakan pelaksanaan sesungguhnya secara demonstratif.

 

Teori dalam penggunaan ilmiah digunakan untuk menunjuk suatu abstraksi atau generalisasi.

 

Jadi teori merupakan penjelasan yang sistematis dan abstrak terhadap beberapa aspek dari suatu kenyataan dan teori mampu menjelaskannya.

 

Konsep-konsep dijalin menjadi suatu teori.

 

Model  konseptual atau kerangka konseptual atau skema konseptual merupakan frase yang dapat dipertukarkan. Model konseptual adalah konsep-konsep atau abstraksi yang saling berhubungan  yang dirangkai bersama menjadi suatu skema yang secara logis terdapat relevansi terhadap suatu tema yang sama.

 

Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Misalnya suhu badan, jumlah penduduk.

Suhu badan merupakan variabel kontinu karenanya angkanya merupakan rentang dan angkanya merupakan angka infinit, misalnya 37, 78oC . Di antara angka 37 dan 38 terdapat beberapa kemungkinan nilai yang tidak terbatas.

 

Sedang jumlah penduduk merupakan variabel diskrit  karea angkanya merupakan angka yang pasti 1 orang, 4 orang dst.2.345.677 orang. Di antara angka 3 orang dan 5 orang terdapat hanya satu angka yang pasti yaitu 4 .

 

Independen Variabel (variabel bebas) adalah variabel yang diyakini menyebabkan atau mempengaruhi variable dependen (variabel terikat), dimana variabel terikat dihipotesiskan tergantung atau disebabkan oleh variabel lainnya.

 

Data (jamak, tunggal=datum) merupakan pecahan-pecahan informasi yang diperoleh pada kegiatan investigasi. Pada penelitian kuantitatif peneliti terutama menginvestigasi data data kuantitatif yaitu informasi dalam bentuk numerik, sedangkan pada penelitian kualitatif peneliti terutama mengumpulkan data kualitatif yang biasanya dalam bentuk naratif

 

Compiled by : zp

from offline sources.

 

At Malang town.

 

 

Beberapa waktu lagi insya Allah sebuah politeknik kesehatan di Kota Apel akan mempunyai Program Diploma D IV Keperawatan Jiwa bersifat klinik.

 

Bersifat ‘klinik’  karena diarahkan untuk lulusannya mempunyai keahlian spesialistik untuk keperawatan jiwa di tataran layanan, bukan pada tataran pendidikan seperti pada D 4 Perawat Pendidik yang pernah berdiri pada tahun 1999 sampai 2001 di beberapa universitas yang tersebar di Indonesia (USU, UNAIR, UGM, UI dll).

 

Pada Program Studi D IV Perawat Pendidik (yang menerima mahasiswa dengan ijazah D III Keperawatan) proses perkuliahan dibekali dengan mikro teaching praktek mengajar. Dan Diploma IV perawat pendidik banyak yang mengatakan sebagai program cepat untuk memenuhi kekurangan tenaga S 1 Keperawatan yang kekurangan di mana pada tahun-tahun itu hanya UI saja yang menyediakan program pendidikan S 1 Keperawatan.

 

 

Yang jadi kerisauan saya adalah pendidikan perawat di Indonesia sejak dahulu bermacam-macam. Dahulu ada ada sekolah penjenang, kemudian ada sekolah pengatur rawat (SPR), ada juga sekolah perawat kesehatan spesialis jiwa (SPKsJ), ada juga SPK, terus ada juga SPKC. Nah semuanya pendidikan keperawatan tersebut setingkat SLTA. Kemudian pada perkembangannya SPK ditutup, dan untuk pendidikan keperawatan disediakan D III keperawatan.

 

Kemudian pada tahun-tahun 1999 muncul D IV perawat pendidik dan S 1 Keperawatan.

 

Saat ini terdapat pendidikan D III Keperawatan, ada D IV Keperawatan berbagai spesialistik (jiwa, medikal bedah, komunitas, dll), dan ada pendidikan S 1 Keperawatan plus pendidikan profesi Nurse (disingkat Ns. artinya perawat). Pada level S 2 ada pendidikan magister keperawatan dengan spesialisasi keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, jiwa, dll.

 

Belum lagi pendidikan Dikper (opo maneh iki?) / pendidikan keperawatan suatu istilah untuk pendidikan keperawatan 1 tahun dari SMU/SLTA di salah satu pendidikan swasta yang kebetulan ada di Malang. Dan saat ini masih ada.

Satu dua orang pemerhati keperawatan sekaligus pengurus PPNI daerah  di wilayah kota di mana saya berada  saya mintai pendapatnya soal ini geleng kepala, ‘ tidak tahu’.

 

Masalahnya adalah, dengan bervariasinya pendidikan keperawatan yang bersifat vokasional maupun akademik, profesi apakah sudah memikirkan, ataukah tidak berdaya berhadapan dengan sistem yang berkembang di Indonesia?

 

Saat PPNI pusat dulu melakukan penggalangan sampai tingkat tertentu di daerah untuk menolak atau bersikap menolak terhadap inisiatif pendidikan D IV dari pemerintah yang notabene PPNI tidak menyetujui hal tersebut, sikap PPNI sudah bagus pasti dengan pemikiran matang. Terlepas dari siapa yang akhirnya  memegang kendali terhadap masa depan pendidikan keperawatan yang  bisa kita lihat saat ini DIV terus bermunculan seperti jamur di pendederan  budi daya jamur…

 

Oya penolakan PPNI terhadap D IV tersebut sampai sekarang masih menimbulkan ‘jejak sisa’, menimbulkan polemik dan perpecahan, polemik pada tataran duduk dan kumpul-kumpul, dan perpecahan artinya ada sikap memandang lebih rendah pendidikan D IV sampai-sampai muncul plesetan SST singkatan dari Sarjana Satu Tahun. Untunglah pemerintah memayungi dan mengayomi dengan produk aturan-aturan yang mapan. Contoh D IV dan S 1 setara dalam hal kepangkatan kepegawaian pada awal pengangkatan.

 

Bagi sebagian lulusan D IV saat itu merasa tidak di akui keberadaannya dan  melihat PPNI tidak mengayomi.Saya tidak mengkritik PPNI saya hanya ingin terbuka dan jujur dengan konflik pikiran dan perasaan kawan-kawan yang kebetulan lulusan D IV.

 

Oya kita  kembali ke masalah pendidikan di atas…..

Saya sebagai orang pinggiran dan penonton di luar pagar komunitas PPNI menduga bahwa pada ‘pertempuran’ di tingkat penyusunan UU, atau peraturan dan sejenisnya agaknya pihak yang menyuarakan perawat kalah suara. Betul apa gak saya tidak tahu..

 

Idealnya suatu pendidikan keperawatan berdiri harus ada rekomendasi organisasi profesi keperawatan yang diatur dalam UU sehingga bersifat mengikat penyedia pendidikan.

 

Lulusan keperawatan  yang bermacam-macam seperti saat ini apakah sudah didasarkan pada kebutuhan stakeholder.

 

Mereka, para mahasiswa nanti lulus dan bekerja mengacu pada standar kompetensi profesi  keperawatan sudah terstandarisasi sehingga tidak tumpang tindih dengan perawat dengan spesialisasi berbeda.

 

Apakah sudah ada standar kompetensi profesinya?

 

Mereka, para mahasiswa dengan tingkatan pendidikan  berbeda dan wilayah spesialisasi berbeda, bekerja mengacu pada standar kompetensi profesi. (misalnya  perawat D IV Keperawatan Medikal Bedah dan perawat Magister Keperawatan Medikal Bedah)

 

Apakah sudah ada standar kompetensi profesinya?

 

JIka belum ada, bagaimana bisa muncul kurikulum pendidikan mereka sementara idealnya ”kurikulum pendidikan’ mengacu pada ’standar kompetensi profesi’ .

Sejak awal saya yakin pemerintah telah membuat perencanaan yang matang dan didasari oleh kebutuhan pasar dan segala sesuatunya telah didipikirkan.

Tinggal organisasi profesi kiranya menurut hemat saya sejalan dengan perkembangan yang ada. Pasti.  

 

 

Kemarin hari Sabtu, 11 Juli 2008 Saya mendampingi sekitar 51 orang mahasiswa-mahasiswa Keperawatan Poltekkes Malang untuk mengikuti presentasi “International SOS Indonesia”, sebuah perusahaan yang antara lain melayani layanan kesehatan terutama emergency di Poltekkes Surabaya Jl.Pucang Jajar.

 

Lebih akurat informasi tentang International SOS Indonesia klik di sini.

 

Presentasi meliputi profil perusahaan dan testimoni perawat yang sudah lama bergabung di SOS International.

 

Gaji awal sekitar 2 juta rupiah, bersih. Wilayah operasional menjangkau daerah yang luas dan  perusahaan menjangkau daerah-daerah yang terpencil, seperti laut lepas, tambang (misalnya pertambangan Freeport), pedalaman kalimantan atau dimanapun dibutuhkan.

 

Profil perawat yang dibutuhkan tidak jauh-jauh dari watak suka tantangan, konsisten, mampu berbahasa inggris, sehat dan lulus standar kompetensi yang ditentukan.

 

Presentasi yang langsung dilanjutkan seleksi diikuti mahasiswa Poltekkes Surabaya dan Poltekkes Malang dan beberapa orang dari Akper swasta.

 

Poltekkes Malang mengirimkan mahasiswa dari Prodi Keperawatan Malang (15 orang), Prodi Kep Lawang (20 orang) dan Prodi Kep Blitar (9 orang), sedangkan dari Poltekkes Surabaya yang saya temukan berasal dari Prodi Kep Tuban, Prodi Kep dr.Soetomo, dan Prodi Kep Sidoarjo dan Prodi Kep dr.Soetopo.

 

Tidak semua mahasiswa Poltekkes Malang lolos seleksi, prosentasi terbesar kelolosan berasal dari Prodi Keperawatan Malang  yakni 73 % karena dari 15 orang yang mengikuti tes, 11 sampai pada tahap wawancara), sedangkan dari Prodi Kep Blitar 33% (dari 9 yang dikirim, 3 sampai pada tahap wawancara), sedangkan dari Prodi Lawang prosentasi kelolosan sampai tahap wawancara kurang dari sekitar 40 % (karena dari 9 yang dikirimkan, pengamatan saya tidak lulus lebih dari 10, tapi yang sampai tahap wawancara saya belum mendapat informasi akurat).

 

Kelolosan sampai wawancara Prodi Keperawatan Tuban sebesar 17 % (dari 6 yang ikut,  1 yang lolos sampai wawancara).

 

Materi tes tulis terdiri dari 30 item soal (berbahasa indonesia) dan 5 item (kemampuan menyusun kalimat berbahasa inggris). Tiga puluh item tersebut dengan materi berkisar pengetahuan dasar kegawat daruratan (CPR / RJP, seputar fraktur dan penanganannya, pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dan lain-lain). Yang jelas ilmu dan ketrampilannya sangat selaras dengan ketrampilan dasar dan pengetahuan yang erat dilakukan di Ruang CVCU. 

 

Sedang 5 soal adalah menyusun kalimat berdasarkan kata bahasa inggris yang sudah tersedia.

 

“Wah asal tahu dan mengerti ketrampilan dari Ruang CVCU  RS dr.Saiful Anwar Malang, pasti bisa mengerjakan soal (soal tes SOS International Indonesia) tes Pak” Kata mahasiswa.

 

Sedangkan tes tahap selanjutnya adalah tes kemampuan dasar dan psikologi.

 

Wawancara  dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris berkisar pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan penyakit-penyakit menular tropis (DHF, malaria), dan juga kalau tidak salah termasuk tentang AIDS.

 

Para calon baik yang tidak lulus maupun yang lulus sampai tahap manapun yang datang  ikut tes memperoleh uang transport (terutama luar kota) dan akomodasi.

 

Demikian informasi saya semoga ada manfaatnya.